saya sekolah dan kemudian bekerja di sini yang kebetulan terkenal dengan gerakan mahasiswanya (waaay back where student movement matters). Meaning: banyak mahasiswa yang ‘idealis’ di sini. I like them, without those kind the world wouldn’t be interesting. i just dont like those the idealistic-boastful-judgemental ones. Sejak jaman kuliah dulu (duluuuuuu........ sekali, waktu demonstrasi masih dilarang, waktu soeharto masih jadi presiden) orang2 kaya begini bawaannya ngajak gelut wae (duh apa ya terjemahannya? Pitonjokkeun kali ya..... hahahha.... tambah bingung. kadang2 sunda sayah keluar juga and there’s no descriptive language than sundanese!!!!).
Itu loh...... orang2 yang kalo kita ga ikutan demo terus ngatain kita ga peduli nasib bangsa, ga peduli rakyat kecil, borju dll dst. Kemudian ketika kita ikutan demo marah2 lagi, dianggapnya kita Cuma mau ngeceng doang (duh.... coba ya, mau liat apa sih di demo? Orangnya lusuh2 semua.......)
Orang2 yang bangga nya setengah mati karena baca biografi soekarno (ayah saya yang angkatan ’66 benci setengah mati pada soekarno. Katanya soekarno ga bisa mensejahterakan rakyat, terlalu sibuk pesta dan kawin. Kata2 ini menempel kuat di benak saya), baca buku filsafat/politik atau siapa lah yang bukan textbook atau novel.
Orang2 yang langsung pasang tampang males jika saya tidak tahu blablabla (insert nama penulis buku politik/filsafat).
Saya sampai ga mau membahasakan diri dgn ‘aku’ (padahal di rumah biasa ber’aku’ dengan kakak2) dan memilih ‘saya’ atau ‘ira’ supaya ga sama dgn mereka. Rasanya pongah betul cara orang2 itu membahasakan dirinya dengan aku.
Anyhoo, saya seperti kembali ke masa lalu ketika kemudian bekerja disini. Saya harus berhadapan dengan orang2 seperti itu lagi, yang tidak segan2 menuduh ini itu tanpa tahu apa2 dibaliknya, tanpa mengerti mengapa. walaupun mulut saya sudah berbusa, mereka tetap tidak mau menerima penjelasan saya. Saya adalah golongan kapitalis, golongan borjuis yang hanya ingin bertambah kaya tanpa peduli orang lain.
sudah sekian angkatan lewat, sudah sekian tahun berlalu, tapi masih ada juga yang seperti ini. * mengelus dada*
dan ternyata saya masih harus berurusan dengan mereka *kesel*
No comments:
Post a Comment