Monday, September 24, 2007

menikah (lagi)


Semenjak awal tahun ini rasaya saya seperti perawan tua yang dikejar-kejar orang tuanya untuk menikah. Usia, baik biologis maupun psikologis, dianggap sudah sangat mencukupi tetapi kok ya tidak menikah juga sementara orang tua sudah tidak sabar menimang cucu sebagai tanda bakti sang perawan terhadap orang tuanya. Biaya pun sudah disediakan. Pokoknya tinggal mencari calon pasangan saja deh.

Ini dia masalahnya.
Cari pasangan itu tidak mudah, jendral. Bagi saya, rasanya lebih sulit daripada mendapatkan si belahan jiwa yang setia menjadi tumpuan keluh kesah saya selama ini. Walaupun sudah luluran, krimbat, facial dan nungging di sekolah kepribadian, toh belum juga dapat pasangan. Ditolaaakk terus…. Alasannya macam-macam.
Ada yang sombongnya bukan main: maaf ya, kamu gak selevel sama saya. Cih!
Ada yang biasa saja: wah saya sedang tidak cari pasangan, coba lagi tahun depan ya, siapa tahu saya sudah siap.
Ada juga yang baik hati: saya sudah punya pasangan, tapi coba hubungi si anu. Sepertinya dia akan cocok denganmu. Coba dekati dia pakai cara ini deh.

Apa pun alasannya, setiap penolakan mengakibatkan keguncangan jiwa, ganggguan emosional dan terutama hilangnya kepercayaan diri yang semakin lama makin terpuruk tergeletak di dasar sumur kelam bersama tokoh anak kecil rambut panjang menyeramkan di film horror jepang yang dibikin ulang di amerika itu loh (jaka sembung bawa golok!!!).

Orang tua pun bertanya-tanya, kok belum dapat juga? Apa masalahnya? Sementara batas waktu sudah di depan mata. Pemberi dana sudah mengancam: kalau tidak dapat pasangan, uangnya mau dipakai untuk yang lain saja.
Lah, kalau belum jodoh saya bisa apa? Belum ada yang cocok. Sudah dari jaman kapan saya ingin mandiri kok, ingin memulai petualangan baru, cari suasana yang mungkin lebih enak daripada dimarahi terus di rumah. Walaupun pasang muka tenang, tapi hati ini kebat kebit tiada tara. Walau tidak merasa tertekan kok ya badan jadi manja, sedikit-sedikit virus datang berkunjung bikin tenggorokan sakit dan hidung beringus.
Halah…. dorama!

Ya sudah. Sekarang saya cuma bisa menunggu nasib: menikah (lagi) atau mungkin jadi anak durhaka saja sekalian. Huhuhuhu……

Susah bener cari sekola.

No comments: