Anyways, supaya keliatan sibuk, mendingan bikin posting. At least keliatan ngetik. Hehehehe.....
Beberapa orang sering menggunakan kata ‘global’ untuk mengganti kata ‘umum’ atau ’menyeluruh’. Misalnya: ’mari kita lihat dulu permasalahannya secara global’ (padahal gak ada hubungannya sama sekali sama dunia, orang cuma ngomongin masalah kantor aja kok). Getek deh........
Sejak saya menikah, saya sering diajak ngobrol yang nyerempet2. saya memang sudah menikah, tapi kan tidak berarti saya mikirin dan senang diajak ngobrol tentang sex with just anybody. Apalagi kalo itu co-worker saya. Uh.
I have a love-hate relationship with starbucks. The coffee is not strong enough, but I can not deny that it tastes good (although can not say it’s a coffee, it’s a coffee flavored drink. I like excelso more, but why oh why can’t they redecorate their place into a nice hangouts?). I hate that it’s so pricey. I hate that here, it is considered cool to hangout at starbucks while originally anyone can do that. That you reached some sort of social status to be able to sip it. I hate that here, they have to open their shop at such big malls like plasa senayan while originally you can find starbucks at every corner (kayanya salah satu syarat buka starbucks adalah harus di sudut jalan. Saya jadi ingat salah satu bank yang sudah meninggal akibat krisis moneter yang juga selalu mengambil tempat di sudut, sampai singkatan bank tersebut diganti menjadi: bank hareupeun simpang. Hehehehe….. ga nyambung ih.).
I have a love-hate relationship with qb. I dislike that they copy everything from barnes & noble (sampai tanda kategori bukunya pun sama!!!! Duh….). I hate how they mark up their prices (coba deh buka stiker qb di cover belakang bukunya, bisa dilihat berapa harga yang dianjurkan dalam us$ lalu kalikan dengan harga dolarnya. Selisihnya lumayan kan? Apa boleh buat, kita harus bayar biaya operasi + risiko yang ditanggung qb. Pedagang mana ada yang mau rugi toh?). nevertheless, I can not help myself to go there at least once a month and buy some even though deep down in my heart I cried: Kagak relaaaaaaa!!!!!! Apa boleh buaaaatttt!!!!
Saya & abang tercinta sempat merasa menaaaang terhadap qb. Saat itu dunia tengah menantikan buku harry potter: order of phoenix dan konsumen bisa pre-order di sana, tentu saja dengan harga istimewa. Akhirnya kami pasrah saja, mau dapet sukur, ga juga gapapa. Tapi ternyata oh ternyata, kita tetap dapat buku itu on its launching day, with much lower price!!!! HA!!!! *proud smirk*. I remember big bro said: I guess we’re one of those 8 million lucky ones who get the first edition of this book. Hehehehe………
Sejak peter jackson membuat film lord of the rings nya yang super keren dan kesohor itu, banyak orang merasa keren atau dianggap keren jika sudah baca bukunya. Sedangkan dari jaman dahulu kala (sampai sekarang sih.... hehehe.....), saya selalu menganggap sebaliknya. Mungkin karena sang abang tercinta yang so geekly cool itu membaca & suka bukunya, jadi di mata saya orang yang baca itu adalah orang geek. Me & little sis having a big blast teasing homophobic big bro about the homoerotic tone in that book. Hehehee…….
Which reminds me, sekarang menjamur sekali penulis2 muda dari indonesia dengan genre chicklit. bagus!!! Sudah saatnya minat baca ditumbuhkan di indonesia, masa komik terus? Tapi kenapa ya sampai sekarang belum tertarik untuk baca atau beli? Beberapa tahun lalu sempat baca beberapa karya penulis generasi baru yang menghebohkan dan dibahas di mana-mana, tapi rasanya mengecewakan. Terlalu mengawang-awang. Pretentious gitu loh. sedangkan baca yang chicklit versi indonesia rasanya kok kagok juga. sepertinya saya belum menemukan yang memuaskan selera saya aja, kali ya? atau mungkin juga karena saya lebih suka cerita yang fantastis, yang berbeda betul dengan kegiatan saya sehari-hari.
Hmm… maybe next time I’ll write about my quirks.
Wah sebentar lagi waktu pulang kantor telah tiba. Senangnya......
No comments:
Post a Comment